Jumaat, 20 Mac 2015

Kalam Murabbi - Muhasabah

Jangan jadikan waktu yang kita miliki, umur yang kita miliki, kehidupan kita miliki dari yang sangat sedikit ini kita jadikan sebagai halaman untuk permainan orang-orang yang berbuat dholim kepada Allah subhanallahu wata`ala. Orang-orang yang berbuat kejahatan, orang-orang tersebut ingin menjadikan diri kita, dzat kita, waktu kita, hidup kita sebagai tempat permainan mereka, tempat mereka membuang kotoran . 

Walyaudzubillahi min dzalik.

Allah subhanallahu wata`ala berfirman yang artinya: Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan membuat engkau tersesat dari jalan Allah subhanallahu wata`ala.
Beliau al-Habib Umar bin Hafidz menasehati untuk menjaga pandangan, pendengaran, dan lisan. Menjaga pandangan dari hal-hal yang bukan urusannya, menjaga pendengaran dari hal-hal yang bukan urusannya, menjaga hal-hal dari menyaksikan yang bukan urusannya, menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang bukan urusannya, menjaga hal-hal yang fudhul yang bukan urusannya, apalagi dari hal yang diharamkan oleh Allah subhanallahu wata`ala. Sebab dengan menjerumuskan matanya, pendengarannya, lisannya dalam hal-hal yang bukan urusannya maka ia telah menodai kemanusiaan/ menghinakan kemanusiaan.

Walyaudzubillahi min dzalik.

Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim
silahkan tag dan share

Isnin, 9 Mac 2015

Kalam Murabbi

Dr Umar Abdul Aziz Quraisyi dalam kitabnya Tha'un Al-Asr; Al-Furqah Bainal Muslimin Wa ilajuha Fil Kitab Al-Mubin menyatakan tentang sebab pertelingkahan ummah:

"Apabila kita meneliti sejarah, didapati bahawa kebanyakan perpecahan berlaku disebabkan perselisihan dalam perkara politik dan perebutan untuk menjadi pimpinan. Hal ini menjadikan sesetengah umat islam cinta kepada dunia lalu hilanglah kemuliaan dan kekuatan mereka. Keadaan ini akhirnya menyebabkan mereka mudah ditewaskan sebagaimana hilangnya kekuatan Andalus dan yang seumpama dengannya suatu ketika dahulu.

Adapun cara merawati pertelingkahan ini ialah melalui:

» Mesti canggah syaitan
» Kenal siapa rakan kongsi syaitan
» Tahu jalan petunjuk Allah
» Mendahulukan serta menjaga Agama
» Capai jalinan ukhuwwah mantap
» Iltizam dengan adab ketika khilaf
» miliki ilmu yang bermanfaat beserta kefahaman yang menyeluruh
» Memperbetulkan kefahaman salah
» Ikhlas dan elak daripada ikut hawa nafsu".

Pertelingkahan ini ibarat penyakit taun, ia akan merebak dan mengena sesiapa sahaja yang tidak
menyediakan pertahanan serta pencegahan. Sebagaimana taun boleh menyebabkan kematian maka furqah atau perpecahan yang terhasil dari pertelingkahan ini juga akan menyebabkan kematian hati. Furqah pasti akan menyebabkan kegagalan serta hilang kekuatan. Maka dengan demikian, segala anasir yang membawa kepada furqah mesti dijauhi.

I'tishom atau penyatuan adalah dasar kekuatan dan mana-mana anasir yang meruntuhkan i'tishom mesti dilenyapkan. Jika musuh yang melakukan furqah kepada gerakan islam maka itu adalah perkara sunnah perjuangan yang sudah dilalui oleh pejuang sejak dahulu. Namun jika anggota gerakan islam sendiri yang terlibat dengan agenda furqah, ianya suatu malapetaka dalam gerakan islam. Golongan yang memulakan pertelingkahan ini mesti kembali ke pangkal jalan atau mereka akan menghadapi suatu hukuman Tuhan terhadap kesalahan membebankan perjalanan gerakan islam.

Asri ed-Diwanie
17 Jamadil Awwal 1436

Jumaat, 13 Februari 2015

Dalam Kenangan


Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbb:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات
”Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik”

Menagislah karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .

Dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama. Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far ra berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”


Al-Quran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya).Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 4/472)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’)

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
Artinya: “Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani No 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih.

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR al-Bukhari No 100)

Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه
Artinya: “Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya” (Ihya Ulumiddin I/15). Wallahu a’lam bis-Shawab (KH. Ibnu Mas’ud /SM)

"Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” - (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074)


Mudahan kite dapat kelebihan itu

Rabu, 14 Januari 2015

Sabar itu Kebahagian

 
Dikisahkan ada seorang Wali Allah ﷻ bernama Ibrahim Ibnu Ali yg bekerja sebagai penjaga kebun.
Diceritakan pada suatu hari dtg seorang samseng di kebun yg dijaga oleh Ibrahim lalu berkata;

"Saya mahu buah-buahan yg terdapat di kebun ini,dgn nada yg kasar kerana ingin menunjukan kekuatan beliau lalu Ibrahim mengatakan sy adalah penjaga kebun ini dan sy tiada hak memberi suatu buah pun lalu samseng td berkata; "Kamu tidak tahu siapa saya?lalu Ibrahim pun berkata sy mohon maaf dan tidak dapat memberikan.

Lalu ditampar oleh samseng td..dan ditampar utk kali yg kedua tetapi tetap dia berkata sy tidak mengizinkan kamu mengambil satu buah pun drp kebun ini.

Dan apabila ditampar utk kali yg ketiga samseng itu pun melihat Ibrahim orang nya tegar tetap tidak memberikan apa yg diinginkan lalu ia pun berlalu meninggalkan Ibrahim sendirian.

Kejadian ini telah disaksikan oleh seseorang lalu samseng itu dipanggil..lalu org itu bertanya;

"Apa yg kamu buat td?samseng itu berkata sy ingin meminta buah dikebun ini tetapi tidak diberi oleh dia..lalu org itu pun berkata kpd samseng itu; "Kamu tahu tidak siapa dia org kamu tampar td?ia berkata;
"Saya tidak tahu,ia adalah Ibrahim Bin Ibnu Ali org besar namanya dikenal tetapi wajahnya tidak tahu bagaimana..Lalu samseng itu berasa malu dan berkata; .

"Aku meminta maaf kpd kamu kerana menampar kamu berkali-kali,lalu Ibrahim Ibnu Ali mengatakan; "Sy maafkan kamu bermula kamu mengangkat tangan dan memukul kpd sy dan sy sudah memaafkan kpd kamu..lalu ia berkata;

"Bagaimana sy tidak memaafkan kamu kerana setiap kali kamu mengangkat kan tangan dan memukul kepada sy,Allah ﷻ mengampun kan dosa sy kerna sy sabar menghadapi sikap kamu,dengan sebab kamu,Allah ﷻ mengampunkan sy,tak kan sy tidak mahu memaafkan kamu?kerna kamu telah membawa kebaikan kpd sy lalu sy membalas kebaikan-kebaikan yg pasti kebaikan yg lebih besar diberi kpd kamu.
سبحان الله.

 
Muhasabah diri :
 
- Bagaimana kita ingin mengukur hati kita?

- Sesungguhnya Orang yang sabar itu akan diganjari dengan pahala yang tidak terhitung banyaknya...

 

Selasa, 13 Januari 2015

al-Hafi

Allahumma Solli Wa Sallim 'Ala Rasulillah SAW...

Pada suatu hari Imam Bisyr Al Hafi ada beli sepasang selipar baru,seliparnya itu digunakan untuk ke masjid dan beliau letak seliparnya dihadapan masjid .

Selepas sembahyang,selipar nya hilang lalu Imam Bisyir Al Hafi menangis,Kata orang ramai yang solat dimasjid tu "Tak layak kau ini menangis,Engkau ini orang besar" .

Lalu jawab Imam Bisyr, saya menangis bukan sebab hilang selipar itu tetapi saya menangis kerana disebabkan saya,orang itu berdosa kerana mencuri selipar saya, kerana saya ! orang lain yang tanggung dosa ! maka mulai hari ini aku akan jalan tanpa selipar .


Sejak peristiwa ini,orang gelarinya dengan (Al Hafi) bermakna orang yang jalan tak berselipar.Ini namanya orang yang warak sangat takut kepada Penghisaban di akhirat tapi zaman sekarang cerita sebegini hanya sekadar cerita,jarang sekali berlaku.

Muhasabah dan renungan untuk diri :

Berapa banyak sudah amal perbuatan kita menyebabkan orang lain berbuat dosa... & Berapa banyak pula amal perbuatan kita menyebabkan orang lain berbuat kebaikan?

Semoga kita sentiasa dipilih untuk menjadi sebab kepada kebaikan umatnya Nabi Muhammad SAW, bukan kemaksiatan...

Isnin, 12 Januari 2015

Tangisan Sebatang Tamar


Sedu sedan itu bak ratapan si kecil
Yang rindu belaian dan perhatian
Yang mendambakan kasih dan sayang
Dari seorang insan yang penyayang

Tangisan itu dari sebatang tamar
Yang sebelumnya menjadi mimbar
Sandaran Rasul
Tika menyampai khutbah
Diganti mimbar baru
Kerna keuzurannya

Kisah tangisan sebatang tamar
Menyentuh hati melonjak belasan
Benarkah aku cinta
Benarkah aku rindu
Sedangkan tak pernah gugur airmataku
Mengenangkanmu

Tangisan itu dari sebatang tamar
Yang sebelumnya menjadi mimbar
Sandaran Rasul
Tika menyampai khutbah
Diganti mimbar baru
Kerna keuzurannya

Betapa gelapnya hatiku ini
Untuk menghayati perjuanganmu
Betapa angkuhnya diriku ini
Untuk menghargai perjuanganmu

Ya Rasulullah ingin aku menjadi
Sebatang tamar yang menangis
Rindu kepadamu

Ya Rasulullah biarlah aku hanya
Sebatang tamar
Namun dapat bersamamu
Di dalam syurga

Tangisan itu dari sebatang tamar
Yang sebelumnya menjadi mimbar
Sandaran Rasul
Tika menyampai khutbah
Diganti mimbar baru
Kerna keuzurannya

Lagu : Tangis Sebatang Tamar
Artis : Dakmie